• Jelajahi

    Copyright © KROYA MEDIA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    SPORT

    Iklan

    lahirnya Solosche Radio Vereeniging (SRV)

    Rabu, 01 April 2020, 19.18 WIB Last Updated 2020-04-01T12:18:59Z
    Hari ini, 1 April 1933, lahirlah sebuah siaran radio yang dipelopori oleh anak negeri di Surakarta.

    Solosche Radio Vereeniging (SRV) adalah siaran radio pertama di Indonesia yang didirikan bukan oleh orang Belanda. Adalah KGPAA Mangkunegoro VII dan Ir. Sarsito Mangunkusumo yang berhasil mewujudkan SRV itu.

    SRV berawal dari siaran radio amatir oleh Perkoempoelan Kerawitan Mardi Raras Mangkoenegaran dari halaman Puro Mangkunegaran. Siaran radio dengan kode PK2MN ini secara sporadis menyiarkan gamelan yang ditabuh di halaman Mangkunegaran, kethoprak dan wayang orang dari Taman Partini (sekarang menjadi Taman Balekambang). Karena siarannya bersifat amatir dan tidak bisa berjalan rutin, maka atas titah MN VII dibentuklah SRV.

    Gedung SRV (sekarang gedung RRI Surakarta) berdiri di jalan Marconi di atas tanah hadiah dari MN VII. Gedung SRV diresmikan oleh putri MN VII yang bernama Goesti Siti Noeroel Kamaril Ngarasati Koesoema Wardhani, yang juga adalah seorang penari, pada tanggal 29 Agustus 1936.

    Peran SRV sebagai siaran ketimuran (radio anak negeri) mulai terlihat saat berhadapan dengan dominasi siaran radio yang direstui oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Nederlandsch Indische Radio Omroep Masstchapyj (NIROM). Selanjutnya NIROM memonopoli per-radio-an di Hindia Belanda. SRV mengorganisir radio-radio yang didirikan oleh anak negeri supaya tetap tegak.

    Adalah Ir. Sarsito Mangunkusumo (yang saat itu adalah ketua SRV) bersama Mr. Sutardjo Kartohadikoesoemo yang menginisiasi pertemuan antar penyelenggara siaran radio ketimuran. Melalui pertemuan Bandung pada tanggal 29 Maret 1937 berdirilah Perikatan Perkoempoelan Radio Ketimoeran(PPRK). Melalui organisasi inilah para pegiat siaran radio ketimuran bernegosiasi dengan pihak Hindia Belanda.

    Pada masa Jepang, SRV (yang namanya diubah oleh Jepang menjadi Solo Hoso Kyoku) harus tunduk kepada kebijakan Jepang untuk mempropagandakan Jepang. Namun, kesempatan ini justru diambil oleh SRV, dengan pimpinan Maladi, untuk mengobarkan rasa kebangsaan ( Penyiar Wanita Pertama di Indonesia , Gusti Nurul )
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    KESEHATAN

    +